JUDUL: Pertumbuhan bisnis kuliner
Ketua Umum Gabungan Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman menyebutkan bahwa pihaknya memprediksi selama 2020 hanya akan tumbuh empat sampai lima persen saja dari prediksi awal delapan persen. Walau sektor ini sangat dibutuhkan masyarakat, rupanya tetap ada penurunan konsumsi di kuartal pertama 2020.
"Konsumsi rumah tangga turun 5,02 persen ke 2,84 persen selama kuartal I, dengan 44 persen berasal dari kontribusi makanan dan minuman. Padahal pengeluaran per kapita masyarakat kita 50 persennya untuk pangan, dengan porsi pangan olahan mencapai 17 persen.
Selain penurunan konsumsi, terjadi juga pergeseran kebiasaan konsumen dan channel penjualan juga mulai bergeser online. Menurut Adhi, kini masyarakat lebih tertarik pada makanan organik dan melihat lebih banyak fungsi ketimbang nama produk. Orang berfikir sadar harus punya tabungan untuk menjaga sesuatu yang terjadi. Orang sudah mementingkan food safety, brand healty berubah dan ini kesempatan new comer.
Hal yang sama juga disampaikan CEO Kalbe Farma Vidjongtius yang melihat efek pada kuartal pertama belum akan terasa dan baru akan terasa di kuartal kedua. Penurunan tidak hanya konsumsi masyarakat, tetapi juga supply produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) ke Indonesia.
Supply dari Tiongkok, India, sampai Eropa tersendat, mereka pasti mengutamakan kebutuhan dalam negeri dulu, baru ekspor. Padahal permintaan sendiri naik dua sampai tiga kali lipat di masa covid-19, terutama produk berkaitan kesehatan. Yang biasanya stok empat sampai enam bulan, sekarang habisnya cepat sekali," ungkap Vidjongtius.
Namun demikian, tidak semua sektor makanan dan minuman menurun seperti halnya makanan pelengkap seperti snack yang justru meningkat. Produk lain yang lalu lantaran masyarakat lebih banyak work from home yakni susu, bumbu, sampai tepung. Marketing Director Mayora Indah Awin Sirait menyatakan produk-produk Mayora di awal-awal masa covid-19 masih tumbuh positif.
Komentar
Posting Komentar